Category Archives: Budaya

Gitar Tunggal: Warna Batanghari Sembilan

536514b4681b8be5f1a3dc774d17dde6 Oleh : EK PASCAL*)

Sahilin: Umak-umak belikan sagu /Aku kepingin makan pempek /Umak-umak carikan aku /Aku ni lah malas tiduk dewek. Siti Rahmah: Lemak pule makan pempek /Ambek sagu buat tekwan /Daripade tiduk dewek /Lemak sekali lah meluk bantal. (Pantun yang ditembangkan Sahilin dan Siti Rahmah, di suatu tempat pada suatu waktu, dalam gitar tunggal batanghari sembilan).

Setiap kebudayaan di dunia, memiliki dua pilar utama, yaitu bahasa dan musik mereka sendiri. Dalam kebanyakan budaya, baik bahasa maupun musik dipakai untuk berkomunikasi. Bahasa memakai kata-kata sebagai media untuk membagikan pemikiran dan ide, sedangkan musik mengawinkan kombinasi kata (biasanya dalam bentuk syair) dan komponen ritmis melodis untuk berkomunikasi. Seperti bahasa, musik dapat mengomunikasikan pemikiran dan ide. Bahkan kadangkala musik dapat dipakai untuk strata komunikasi yang lebih mendalam yang mengungkapkan hal-hal yang tak dapat dikatakan secara langsung. Read the rest of this entry

Babat Jawa “Melemahkan” Palembang

Oleh : DJOHAN HANAFIAH

SULTAN Agung dari Mataram adalah tokoh sejarah yang terbesar dalam abadnya. Dia berkuasa pada tahun 1613-1646. Sultan Agung adalah raja Jawa yang berani mengepung Batavia sampai dua kali, yaitu tahun 1628 dan 1629. Meskipun pengepungan itu sendiri gagal, paling tidak sejarah telah mencatat keperkasaan tentara Mataram yang terlalu banyak menjadi korban.

Untuk mempertanggung jawabkan kegagalan pengepungan ini, maka babad yang dibuat oleh penulis istana, yaitu Serat Kendha dan Babad Balai Pustaka menuliskan suatu maaf yang dikemas dengan cerita: Panembahan Purbaya(kakak kandung Sultan Agung) setelah ikut bertempur di Batavia, kembali ke Mataram, melaporkan kepada raja dan menasihatkan agar perang diakhiri saja, “karena orang-orang Belanda hanya datang kemari untuk berdagang.” Read the rest of this entry

Sejarah Keraton Palembang: Sekilas Tentang Palembang

Oleh DJOHAN HANAFIAH

Nama dan Arti Palembang
Kota Palembang adalah sebuah kota tua di Nusantara, mempunyai sejarah panjang dalam khasanah budaya Nusantara. Sebuah nama yang paling banyak memberikan catatan, bahkan ilham dalam perkembangan sejarah dan kebudayaan di Nusantara. Meskipun nama ataupun toponim Palembang itu sendiri secara sederhana hanya menunjukkan suatu tempat (Pa yang berarti suatu kata awal menunjukkan tempat). Kosakata lembang berasal dari bahasa Melayu yang artinya: tanah yang rendah, tanah yang tertekan, akar yang membengkak dan lunak karena lama terendam dalam air, menetes atau kumparan air. Selanjutnya, dalam bahasa Melayu lembang berarti: tanah yang berlekuk, tanah yang menjadi dalam karena dilalui air, tanah yang rendah. Selain itu, ada pengertian lembang yang cukup menarik, yaitu: tidak tersusun rapi; berserak-serak. Read the rest of this entry

Kerajaan Sriwijaya, Bukan Sekedar Romantisme

Oleh: FLORENCIA MARCELINA RAMADHONA

KEBESARAN masa lalu kerajaan Sriwijaya bukan sekedar romantisme bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Sumatra Bagian Selatan (Sumatra Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Bangka-Belitung) terhadap eksistensi leluhurnya.

Menurut Erwan Suryanegara, budayawan Palembang, yang menyusun buku “Sejarah Kerajaan Sriwijaya” pada Kamis (03/12/2009) pagi ini, di rumahnya, Jalan Anggada, Kalidoni, Palembang, berdasarkan kajian dari peninggalan-peninggalan Sriwijaya yang bersifat artefaktual, maupun sajian dalam berbagai literatur yang membicarakan hal-ikhwal Sriwijaya, tidaklah terbantahkan bahwa pada masanya Sriwijaya memang adalah sebuah kerajaan yang besar. Read the rest of this entry

Jangan Panggil Kami Kubu!

Oleh NURUL FAHMY *)

ORANG Rimba yang dalam keseharian masyarakat Jambi biasa disebut “orang kubu” ini merupakan salah satu suku yang mendiami kawasan hutan wilayah konservasi Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) yang mencakupi 4 kabupaten di Propinsi Jambi.

Dalam masyarakat Jambi sendiri, ungkapan yang menyatakan “kubu” diasosiasikan dengan “keterbelakangan”. Jadi, ketika seseorang mengatakan, “kubu nian kau ni!!” kepada orang lainnya, berarti orang tersebut adalah orang yang “terbelakang”. Pernyataan ini biasanya merupakan ungkapan kekesalan seseorang kepada temannya yang dianggapnya bodoh dan norak. Namun, tidak jarang juga kata ini digunakan sebagai lelucon biasa dalam masyarakat Jambi. Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.