Dimanakah Pusat Kerajaan Sriwijaya.

http://lemabang2009.files.wordpress.com/2011/08/lemabang-2009.gif?w=604 DIMANAKAH pusat Kerajaan Sriwijaya? Pertanyaan ini terus menghantui setiap kajian tentang Sriwijaya. Masalahnya, kerajaan maritim di Sumatera itu memang tidak meninggalkan istana atau keraton yang fisiknya masih bisa dilihat hingga sekarang.

Padahal, istana atau keraton menjadi rujukan penting untuk menentukan pusat pemerintahan dari kerajaan yang telah tiada. Masalah lain, bukti-bukti tertulis tentang Sriwijaya masih langkah dan terbatas, bahkan sebagian besar mauskrip justru terdapat diluar negeri. Penggalian dan kajian ilmiah yang ada belum bisa mengungkap semua fakta sejarah kerajaan itu. Ada beberapa wilayah yang sering di klaim sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya, antara lain Kota Palembang, Jambi, Lampung, Riau, dan Thailand. Masing-masing tempat di dukung adanya temuan arkeologis yang berkaitan dengan Sriwijaya, baik berupa candi, prasasti, atau sisa struktur bangunan lama.

Sebagian besar peneliti berpendapat, pusat Kerajaan Sriwijaya di duga kuat berada di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Dugaan tersebut didukung banyaknya prasasti dan situs Sriwijaya yang ditemukan di sekitar Palembang. Prasasti-prasasti tersebut, antara lain Prasasti Boom Baru (akhir abad ke-7 Masehi), Kedukan Bukit (682 Masehi), prasasti Talangtuo (684 Masehi), prasasti Telaga Batu (diperkirakan abad ke-7 Masehi), dan prasasti Pendek di Bukit Siguntang (abad ke-7 Masehi). Prasasti-prasasti ini menceritakan keberadaan Sriwijaya dan kutukan bagi para pembangkang.

Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwanti, menilai Palembang menjadi pusat Sriwijaya pada masa awal kejayaannya abad ke-7 sampai ke-9. Setidaknya ada 18 situs dari masa Sriwijaya di Palembang. Empat situs diantaranya memiliki sekitar abad ke-7 sampai ke-8 Masehi, yaitu situs Candi Angsoko, Prasasti Kedukan Bukit, situs Kolam Pinishi, dan situs Tanjung Rawa. “Data-data arkeologi lebih mengarah pada kesimpulan, Kerajaan Sriwijaya awal berpusat di Palembang. Fase berikutnya, pusat kerajaan berpindah ke Jambi,” papar Retno.

Pada abad ke-10 sampai ke-13 Masehi, Kerajaan Sriwijaya makin berkembang, dan pusat pemerintahan berpindah ke daerah Jambi, Riau, atau Thailand. Perpindahan dipengaruhi budaya kerajaan maritim ditepian sungai, yang cenderung tidak menetap disatu tempat dalam waktu lama. Asumsi ini diperkuat penanggalan pada sejumlah peninggalan arkeologis didaerah-daerah tersebut, yang merujuk waktu pendirian sekitar abad ke-10 sampai abad ke-13 Masehi.

Ketua Dewan Kesenian Sumsel Djohan Hanafiah menilai, Palembang sangat mungkin menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya karena posisinya sebagai pertemuan dari beberapa sungai cukup strategis. “Sriwijaya itu kerajaan maritim yang sangat cocok berkembang di Palembang yang berbudaya tepian sungai (riverine culture). Segala aktifitas berpusat dipelabuhan, sedangkan penduduk tinggal dirumah-rumah rakit dengan transportasi utama perahu,” ungkapnya.

Masih banyak peneliti yang meragukan kemungkinan pusat Sriwijaya di Palembang, sekaligus menunjuk daerah Jambi, Riau, Malaysia, atau Thailand sebagai pusatnya. Dugaan itu terus berkembang karena adanya beberapa peninggalan Sriwijaya yang ditemukan di daerah tersebut. Suaka peninggalan sejarah dan purbakala provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu mencatat, setidaknya terdapat 70 peninggalan disitus purbakala Muaro Jambi di tepian Sungai Batanghari. Dari 70 peninggalan itu, delapan candi dan satu kolam yang telah digali dan direnovasi, yaitu Candi Kotamahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Astano, dan Kolam Telagorajo.

Berbagai artefak yang ditemukan menunjukkan, situs Muaro Jambi merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Buddha pada masa kejayaannya abad ke-10 sampai abad ke-13 Masehi. Asumsi ini dibuktikan dengan adanya arca Prajnaparamita dan puluhan stupa Buddha di candi Gumpung, keramik dari dinasti Sung, Cina (960-1279 M), serta konsep makro kosmos dan mikro kosmos yang merupakan ciri khas bangunan dari aliran Buddha Mahayana.

Di Lampung, ditemukan prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Bungkuk (Jabung) yang menerangkan keberadaan Sriwijaya. Thailand pun diklaim sebagai pusat Sriwijaya karena disana terdapat candi yang diduga di bangun salah satu Raja Sriwijaya, Prasasti Ligor, dan pemukiman sezaman dengan Sriwijaya yang terletak dibeberapa lokasi. Candi Muara Takus yang berbentuk stupa Buddha di Riau juga sering melahirkan asumsi bahwa daerah tersebut pernah menjadi pusat Sriwijaya. Berbagai kemungkinan itu bersifat terbuka, terutama jika ditemukan bukti arkeologis baru yang lebih kuat. Apalagi, para peneliti yang menyimpulkan Palembang sebagai pusat Sriwijaya pun masih berpolemik, dimana persisnya lokasi bangunan istana Sriwijaya. (IAM)

KOMPAS, Jumat, 28 Januari 2005.

About Iwan Lemabang

aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Posted on January 22, 2009, in Sejarah and tagged . Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. bagaimana caranya kita akan dapat data yang akurat jika hanya mengandalkan situs tetapi tanpa adanya mauskrip? kapan lagi generasi keturunan kita tahu kalo negara kita adalah negara yang kaya dan kekuasaannya meliputi asia-afrika? kenapa negara lain justru lebih tahu dari kita akan sejarah negara kita?

  2. denger2 pusat kerajaan SRIWIJAYA itu ada di daerah yg namanya PADANG GUCI, BENGKULU SELATAN-PROVINSI BENGKULU…soalnya di sana pling byak ditemukan peninggalan2 kerajaan SRIWIJAYA,,,,

  3. jangan ngaku wong palembang kalu dak tau sejarah kerajaan sriwijaya..

  4. kalu deket rmh aku

  5. mungkin juga dekat ddgn rumah yg nulis… hehehe

  6. Pertannya dmna pusat kerajaan sriwjaya pun akan kita ketahiu segera dman skarng telah ditemukannya pintu pertama dan patung kerajaan sriwijaya di muara sahung letakannya di muara sahung kab kaur provonsi bengkulu dan dalam jangka pendek ini akan dilakukan penggalian lagi di muara sahung

  7. Sriwijaya itu yakin bener pusatnya di sumsel.Kenapa sriwijaya gak ninggalkan istana yang megah untuk buyutnya?
    Karena para raja sriwijaya anti korupsi.jadi mereka lebih senang tinggal di jukung.selanjutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.